Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntrySep 4, '07 11:45 PM
for everyone

DUA HARI INI…

Cinta terus berlalu, tanpa pernah berhenti untuk sekedar menolehku. Aku tahu...rasa itu telah hilang bersama waktu. Bersama angin yang bertiup dari arah barat. Angin yang membawa harap berjuta keinginan manusia seperti aku. Entahlah, mengapa angin menjadi sangat diharapkan untuk mengabarkan pada seseorang yang kita rindukan...Tapi kali ini, aku tak akan menunggunya. Rasanya sia-sia saja...Hariku telah berganti. Mingguku telah berubah..Musimku telah gugur seperti daun-daun yang merindukan tanah.

Mataku terasa berat, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 12.05, aku belum mengambil air wudhu...Tiba-tiba aku teringat akan pesan singkat yang kau kirim bila menjelang tengah malam. "Akhi..jgn lupa wudhu y, biar malaikat selalu mendoakn antm sampai subuh tiba!wassalam…". Sekilas kulihat handphoneku, berharap ringtone sms menyala. Tapi rupanya sia-sia. Aku telah bermain dengan bayangan, bermain dengan harapan. Harapan yang tak mungkin untuk menjadi nyata. Besok Raihan akan mengkhitbahmu. Bagaimana mungkin aku bisa tidur malam ini ?

Nisa…….andaikan masih ada kesempatan bagiku. Akh..sungguh aku benci dengan kata andai. Mengapa kata andai selalu datang terlambat. Kata penyesalan tak pernah terucap di awal.

Allahu Rabbi...Berdosakah hamba bila tiada keikhlasan di hati ini untuk mencukupkan atas segala nikmatmu. Hanya karena seorang wanita yang hamba sayang dengan cinta yang fana, hati ini menjadi begitu rapuh. Aku tahu saat ini syaitan sedang membisikan kata-kata yang menambah kesedihan. Membuatku melupakan atas nikmat-nikmatMu yang tiada terkira.

Tidak terasa air mata menetes membasahi pipi kananku. Hatiku tak tentu. Aku tak bisa merasakan apapun. Aku merasakan sakit tepat di jantungku....Ah, mungkinkah ini yang dinamakan sakit hati ? Aku belum pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Aku merasa tiada lagi hari esok. Aku merasa takut akan datangnya pagi. Astagfirullah...sudah jam 1.30, waktu cepat sekali berlalu. Aku bergegas mengambil air wudlu, untuk qiyamul lail. Tapi kali ini aku tidak dapat berkonsentrasi dalam salat. Air mataku terus mengalir tak terbendung. Dalam sujud terakhir tangisku makin dahsyat. Aku mengadukan nasibku pada Sang Pemilik ruh ini.

Kudengar lirih suara adzan subuh. Asshalaatukhairumminannaum. Sesungguhnya shalat lebih baik daripada tidur. Mataku mulai terbuka perlahan. Sudah pukul 4.30, aku hanya tidur dua jam. Aku merasakan pening di kepala. Kutahan sakit yang kurasa, kupaksakan mengambil air wudhu untuk shalat subuh. Dinginnya air seperti es hari ini. Musim kemarau telah tiba, sama seperti musim kemarau di hati ini. Tiba-tiba aku teringat lagi pada acara khitbah.. Tidaaaak! Aku ingin melupakannya, aku ingin berpasrah diri pada ketentuan Allah.

Selesai shalat subuh, aku mencoba membaca Al-Quran yang sebentar lagi akan aku khatamkan. Tinggal surat-surat pendek juz amma. Perlahan aku larut dalam kalam-kalam Illahi. Kurasakan hati ini perlahan menjadi lebih tenang. Beberapa kali kudengar tausyiah bahwa apabila hati sedang dilanda gundah dan gelisah, bukalah Al Quran. Bacalah dengan tartil dan penuh penghayatan. Niscaya rasa gelisah itu akan segera hilang, dan cara itu memang selalu berhasil! Ketika membaca surah Al Insyirah aku terhenti sejenak,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Benar…Allah telah memerintahkan kepada umatnya untuk bersabar. Dua ayat dalam surat ini berisikan pengulangan bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Akan tetapi apakah masalah yang sedang aku hadapi ini merupakan bagian dari kesulitan ?

Aku bertanya pada diri sendiri. Apabila dibandingkan dengan kesulitan para ulama dalam menyebarkan Islam sebagai agama yang haq, apabila dibandingkan dengan kesulitan para mualaf yang merasa hidupnya terancam karena memeluk Islam, apabila dibandingkan dengan kesulitan para sahabat ketika berhijrah menghindari ancaman kaum kafir….Apakah masalahku merupakan kesulitan yang telah Allah katakan? Apa aku yang telah mempersulit diri sendiri !! Mendramatisir keadaan hati, menambah-nambah kepedihan hati dengan bayangan yang menyedihkan dan melankolis ? Aku terdiam sesaat…Diam-diam aku merasa malu kepada Allah. Malu akan lemahnya hati ini. Malu akan tangisan yang mungkin sia-sia, ratapan yang sia-sia yang mungkin tidak memiliki nilai di mata Allah.

            Baru saja aku hendak melanjutkan surah selanjutnya, aku dikejutkan oleh ringtone sms handphoneku. Kulihat sekilas…Raihan….

“Akhi, kutunggu di tmpt biasa. Ada yg perlu disampaikan. Wassalam..”.

Raihan begitu singkat mengirimkan pesan. Ada apakah gerangan ? Bukankan seharusnya dia ada di rumah Nisa ? Aku kembali teringat acara khitbah Nisa dengan seorang sahabatku Raihan. Sahabat sejak kami mulai mengenal liqo. Saat itu kami masih semester dua. Aku mahasiswa jurusan biologi, sedangkan Raihan kedokteran. Kami sering berpapasan saat shalat dzuhur tiba, maklum fakultas kami berdekatan satu sama lain.

Raihan anak yang populer di kampus, siapa yang tidak mengenalnya ? Campuran arab dan betawi, ayahnya berasal dari Qatar, seorang Dubes untuk Indonesia. Tampangnya mirip seorang model, bahkan menurutku lebih. Apabila dia berniat, tentunya sudah banyak pencari bakat yang siap mengorbitkannya, akan tetapi dia memilih jalan dakwah, jalannya para ulama, jalannya para syuhada, jalannya para nabi. Pertama berkenalan dengannya terdapat kesan sombong, akan tetapi apabila telah mengenalnya lebih dekat, dia adalah seorang teman yang bisa diandalkan. Teman yang tak ragu menolong apabila sahabat-sahabatnya sangat membutuhkan bantuan. Akan tetapi hari ini…..dia akan melamar seorang wanita yang kucintai, Nisa. Seseorang yang telah membuatku bergetar apabila disebutkan namanya. Seseorang yang membuat hari-hariku bersemangat. Seseorang yang selalu membuatku kagum akan kemuliaan akhlaknya. Nisa…Seringkali aku mengucapkan namamu tanpa sadar. Sehingga seringkali pula aku beristigfar, aku takut hatiku dipenuhi cinta kepada makhluk. Akan tetapi bukankah hal itu menjadi fitrah manusia ? Saat-saat jatuh cinta…terkadang membuat kita terlena akan tugas sebagai hamba Sang Pemilik Ruh. Seorang pujangga sampai bersyair :

“Aku terbuai dalam derita. Prahara yang kurasa sangat bahagia. Cinta layaknya kesedihan yang menyenangkan. Seperti dua sisi mata pedang yang siap menusukmu dengan senyuman”.

            Perawat itu telah melumpuhkan hatiku. Setiap kali melewati rumah sakit tempatnya bekerja, aku sempatkan berhenti barang sejenak hanya untuk mencari sesosok tubuh berjilbab, bermata bundar dengan tatapan tajam. Aku telah mengenal Nisa sejak aktif di Korps Suka Rela, dan sejak itu pula aku mempunyai perhatian lebih padanya. Ia seorang yang santun, menjaga pandangan apabila berbicara dengan seorang pria, di tas kecilnya terselip Al Quran kecil yang tidak pernah lupa ia bawa kemanapun. Ia seorang yang selalu bersemangat dalam setiap aktivitas kemanusiaan dan sepertinya selalu mempunyai energi ganda, setiap kali anggota yang lain merasa kelelahan, dia masih saja sibuk merawat orang-orang yang tertimpa bencana, terakhir kali aku menjadi ketua tim dan Nisa menjadi koordinator medis dalam bantuan kemanusiaan di daerah Garut yang terkena longsor dua bulan yang lalu.

Saat itu aku beranikan diri menanyakan apakah dia sudah memiliki calon untuk pendamping hidup ? Nisa hanya tersenyum kecil. Lesung pipitnya terlihat sangat jelas. Sejenak jantungku berdetak cepat menantikan jawabannya. Aku takut apabila dia sudah dikhitbah oleh orang lain. Sambil berlalu dia hanya berkata lirih,

“Belum ada yang berani melamarku akhi, mungkin belum waktunya.” Senyumnya mengembang, dia tampak malu lalu menunduk dan pergi dari hadapanku. Seketika itu aku merasa lega. Berarti masih ada harapan. Aku ingin melamarnya pada saat yang tepat, aku ingin memantapkan hatiku untuk memasuki jenjang pernikahan. Karena jujur saja, masih ada ketakutan-ketakutan akan menikah. Padahal melalui pernikahan itulah dibukakan pintu-pintu rahmat, bukankah Allah telah menyatakannya dalam Al Quran dan Hadits ?

 

            Aku berjalan cepat menuju sebuah restoran, tempatnya dekat dengan rumahku, tempat dimana aku dan Raihan biasa bertemu. Biasanya pada minggu sore apabila ia tidak mendapat giliran menjadi dokter jaga di rumah sakit, ia selalu menyempatkan bertemu denganku sambil menikmati makanan favoritnya soto kudus. Kulayangkan pandangan mencari Raihan, biasanya dia duduk di pojokan. Kulihat raut mukanya, muram.

 

“Assalamualaikum Re…” Aku biasa memanggilnya dengan Re, lebih enak didengar telinga.

“Waalaikumussalamwarahmatullah…” Suaranya terdengar serak.

Ada apa Re ? Bukankah seharusnya kamu ada di rumah Nisa sekarang ? Keluargamu mana ?” Aku tidak sabar ingin segera tahu yang terjadi.

“Batal, tidak jadi sepertinya, Fa?”  Raihan menghela nafas panjang, lalu membetulkan posisi duduknya.

“Tidak jadi bagaimana ? Duh, aku tidak paham Re ? Kamu kalau bicara yang jelas sedikit, biar aku mengerti!” Aku semakin bingung apa yang sedang terjadi sesungguhnya.

 

“Kenapa kamu tidak pernah cerita sih ?” Raihan balik bertanya. Aku terdiam, aku bingung tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.

“Kenapa…kenapa kamu pendam rasa itu sendiri Fa? Kita sudah seperti saudara Fa, tetapi mengapa ketika kau mempunyai sebuah rencana baik, rencana untuk beribadah, kamu tidak pernah memberitahu aku ? Ya…Setidaknya aku tau siapa yang akan kamu khitbah sehingga aku tidak salah dalam memilih !” Mata Raihan berkaca-kaca. Aku hanya terdiam, aku disergap berjuta pertanyaan dari mana Raihan tahu kalau aku berniat akan meminang Nisa dalam waktu dekat ini ? Apakah Nisa sendiri yang mengatakannya ? Tapi aku belum pernah mengatakan apapun pada Nisa, aku hanya pernah menanyakan apakah dia sudah ada yang melamar atau belum ? Adapun aku pernah bertanya pada murabbi tentang akhlaknya dan pengetahuan agamanya saja, tidak lebih !

 

“Fa, pagi tadi aku menelepon Nisa. Ketika kutanyakan apakah ia telah siap, ia diam saja. Malahan ia menangis. Aku tahu ia menangis walau ia berusaha menutupinya. Lalu aku pergi ke rumahnya karena khawatir terjadi sesuatu. Ketemukan ia dengan mata merah dan sembab. Wajahnya tidak segar seperti biasanya, pastinya ia tidak tidur semalaman. Kutanyakan apa yang terjadi. Awalnya ia hanya diam. Tapi kupaksa agar dia bercerita. Ya…akhirnya aku tahu semua ini karena engkau.” Raihan berhenti bicara. Hatiku seperti diiris sembilu yang sangat tajam. Aku dapat merasakan perasaan Raihan. Tapi apakah Raihan tahu seberapa menderitanya aku ?

 

“Nisa berkata, ia sebetulnya menunggu seseorang untuk mengkhitbahnya. Tapi bukan aku. Ia menunggu seseorang yang ia kagumi karena keistiqamahannya dalam ber-Islam, seseorang yang sangat adil dalam memimpin, seseorang yang pantang menyerah dalam menghadapi rintangan. Lelaki itu adalah engkau, Fa. Selama dua tahun dia memendam perasaan padamu tanpa mampu mengungkapkannya.” Hatiku gerimis, antara sedih dan bahagia bercampur aduk. Aku tak sanggup menatap mata Raihan. Kurasakan air mata akan segera menetes di ujung mataku, segera kuambil tisu untuk menyekanya. Aku merasa bersalah telah membuat saudaraku menderita.

“Ia menerima pinanganku karena ibunya ingin ia segera menikah. Aku terpesona padanya, ia seorang perawat yang disukai banyak pasien. Sifatnya lemah lembut, merawat siapapun tanpa pilih-pilih. Ketika tahu ia pun mengenal engkau, aku menjadi lebih dekat dengannya. Aku tidak pernah menyangka kalau ia menyukaimu.” Raihan menunduk.

 

Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara,

“Tapi Re, tidak ada alasan  untuk menolak lelaki sepertimu. Engkau seorang yang shaleh. Ia pun pasti mengetahuinya. Lagipula aku belum pernah memberikan harapan apapun pada Nisa…” Suaraku sedikit bergetar.

 

“Iya Fa…tapi apakah hati bisa dipaksakan ? Ketika engkau bertemu seorang gadis yang shalehah dan cantik apakah engkau akan langsung menyukainya ? Semua butuh waktu, butuh proses. Dan ketika kita telah menetapkan pilihan maka akan sulit bagi kita untuk menerima yang lain, selama masih ada harapan kita akan terus berusaha atau menunggu. Yang membuat aku sedih adalah membayangkan apa yang kau rasakan ketika menerima kabar dariku dua hari yang lalu saat aku akan mengkhitbah Nisa. Hatimu pasti hancur. Tapi engkau tetap diam, malah mendukungku.” Kali ini Raihan tersenyum kecil. Aku tak tahu apa maksud senyumannya itu.

“Fa, apakah engkau berniat melamar Nisa ? Jujurlah padaku ?” Kali ini aku tersentak mendengar pertanyaan Raihan. Hening sejenak memecah pembicaraan kami.

 

“Re sahabatku…Memang aku berniat akan melamar Nisa. Aku…aku menyukainya sejak kami bersama-sama di Korps. Memang aku tidak pernah bercerita padamu tentang semua ini. Tetapi itu semua bukan berarti aku tidak menghargaimu sebagai seorang sahabat.” Aku sedikit terbata-bata.

“Aku masih ragu untuk memasuki jenjang pernikahan, aku masih merasa belum dewasa Re. Aku masih meminta petunjuk pada Allah agar diberi kekuatan dalam memantapkan jalanku ini. Tetapi rupanya, Nisa telah memilih orang lain, orang lain yang kukenal…sahabatku Raihan.” Kali ini kubiarkan air mataku menetes, aku tidak peduli diperhatikan banyak orang.

“Dua hari terakhir ini kurasakan sangat berat…engkau pastinya tahu bagaimana perasaan seseorang yang mengetahui jika pujaan hatinya akan dilamar orang lain. Sakit Re…Sakit. Tetapi aku tidak mau membagi rasa sakit ini denganmu, aku ingin melihat engkau bahagia walau dengan Nisa. Allah sedang mengujiku dengan keikhlasan. Aku ridha Re, engkau menikahinya. Janganlah niatmu terhalang olehku.” Kurasakan tanganku dingin seperti es, aku merasa gugup. Raihan hanya menunduk, aku tahu diapun merasakan hal yan sama.

 

“Fadhil….” Raihan hendak mengatakan sesuatu, tapi dia sedikit ragu.

“Aku sangat menyayangi Nisa…Tapi, aku lebih mencintai persahabatan kita. Engkau lebih dahulu menyukainya, dan Nisa pun punya rasa yang sama. Tidak ada alasan bagiku untuk terus meneruskan niatku. Demi Allah aku telah bertindak dzalim kepada sahabatku apabila aku tetap menikahinya. Aku teringat kaum Anshar yang menawarkan kepada kaum Muhajirin untuk menikahi istri-istri mereka yang disukai. Sungguh cinta mereka terhadap saudaranya jauh melebihi cinta mereka terhadap istrinya sendiri.” Raihan tersenyum simpul. Ia memegang tanganku erat, mencoba meyakinkanku bahwa ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

“Fa, apabila hari ini kuberitahu orang tuamu bahwa kau akan melamar seorang gadis, apakah kau siap ? Aku akan ikut mengantarmu hari ini juga.” Raihan tiba-tiba bertanya hal yang mengejutkannku. Aku sedikit kaget, tapi aku lalu tersadar bahwa inilah saat yang tepat, saat yang aku tunggu-tunggu. Tiada alasan bagiku untuk menolaknya, Allah telah memberikan petunjuk.

 

“Insya Allah aku siap Re, sungguh suatu kebahagiaan bagiku engkau dapat mengantarku.” Aku berdiri lalu memeluk Raihan. Raihan merangkulku erat seakan kita sudah lama tak jumpa. Orang-orang disekitarku memperhatikan kami. Tapi aku tak pedulikan. Aku berdoa dalam hati, semoga Raihan mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik.

 

“Re….terima kasih untuk semua yang kau lakukan. Engkaulah sesungguhnya sahabat sejatiku.” Aku berujar lirih.

 

Ana akhukum, Fadhil. Aku saudaramu. Tak usahlah berkata seperti itu. Semoga Allah memberikan berkah pada keluargamu kelak.”

 

“Amiiin….Amiiin….Ya, Rabb…”. Aku termenung. Dalam hatiku berkata, betapa mudahnya bagi Allah membolak-balik hati. Betapa mudahnya bagi Allah merubah kesedihan menjadi kebahagiaan, Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan Allah.

 

 

By        : Ryoi Al-Jauzi

Email  : thelolypop@yahoo.com


aishablog wrote on Dec 7, '07
Cerpennya kok agak2 mirip sama novelnya kang abik ya..tapi bagus kok bisa buat sedih juga, lebih sedih lagi kl si fadil mengalah buat raihan,,
dakwahislamku wrote on Dec 7, '07
mungkin ada sedikit pengaruh...maklum masih amatir...doakan saja cerpen2 berikutnya lebih baik...n punya karakter sendiri...jazakallah
Add a Comment